Friday, February 21, 2020

Daun Dimusim Gugur, Sebut Itu Persatuan

Arenapublik.comBerbicara tentang Persatuan, kita kembali kedalam semboyan Negara Indonesia yang mengusung Bhineka Tunggal Ika dimana memiliki arti berbeda-beda tetapi tetap satu. Lalu, apa yang membuat kita bisa direnggangkan atau bahkan diputuskan tali perbedaan tersebut? Padahal perbedaan itu yang membuat kita satu. Negara Indonesia lahir dan tercipta dari berbagai macam suku, bahasa, dan ras yang berbeda-beda. Tidak ada yang sama antara satu manusia dan manusia yang lain, kita juga tidak bisa menyamakan antara manusia satu dan lainnya, karena pada hakikatnya manusia itu unik. 


Gambar 1 Ilustrasi Persatuan Yang Mulai Gugur

Kapasitas Pemikiran Manusia

Mereka mempunyai kapasitas dan kelebihan masing-masing dan memiliki kekurangan masing-masing. Jangan tuntut manusia tersebut untuk menjadi lebih dari apa yang Tuhan anugrahkan kepadanya. Jika Tuhan Yang Maha Esa menganugrahkan kepada satu manusia tersebut beban pikiran 10 Kg, maka jangan tambahkan beban pikiran tersebut menjadi dua kali lipat dari beban tersebut. Perlu diketahui, Tuhan juga tidak akan memberikan suatu cobaan diluar batasan manusia tersebut.

Kondisi Negara Indonesia untuk saat ini hampir sama seperti beban yang diberikan secara berlebihan, sehingga masyarakat nya sangat mudah tersulut emosinya. Kenapa tidak, saat beban pikiran tersebut hanya mampu mengangkat 10 Kg saja, lalu ditambahkan lagi oleh seseorang menjadi tiga kali lipat. Tidak heran membuat masyarakat Indonesia untuk saat ini banyak kehilangan akal sehat dalam berpikir. Setiap isu murahan yang diangkat dalam media massa selalu ditanggapi dengan serius, meskipun kita belum tahu akan kebenaran isu tersebut. Hakikatnya, media massa merupakan suatu wadah bagi masyarakat untuk menyuarakan opini public hingga fakta public. Kesalahan dalam menggunakan media social lain adalah membesarkan suatu perkara yang masih bersifat opini, lalu kemudian digiring ke ranah public secara terus menerus agar terlihat menjadi fakta public.

JASMERAH Bung Karno

Bung Karno dalam pidato Nasionalnya pernah menyuarakan bahwa perang pada masanya sangat mudah, karena musuh mereka sangat terlihat jelas secara fisik. Jika kita dihadapi dengan musuh yang memiliki kondisi fisik yang hampir sama dengan kita, maka kita akan dihadapkan dengan perang yang sangat sulit.

Gambar 2 Ilustrasi Bung Karno
(sumber: azwaranas.artstation.com)

Ucapan Bung Karno yang sedemikian tersebut  sebelumnya juga sudah diisyaratkan oleh Nabi Muhammad Saw, sebagai Nabi penutup dan membawa ajaran penyempurna bagi yang menganut agama islam. Bahwa ummat ku nanti pada masanya jumlahnya akan semakin banyak, tetapi jumlahnya yang banyak seperti buih yang ada di lautan.

Keberadaan kaum munafik atau kelompok penghianat bangsa itu sangat jelas, seperti kita mempercayai akan keberadaan makhluk halus tetapi kita susah bahkan tidak mampu untuk melihatnya. Begitulah kira-kira keberadaan kaum munafik atau kelompok penghianat tersebut. Saat para pendiri Negara kita telah mem paten kan dasar Negara Indonesia adalah PANCASILA dan  hal tersebut juga masih terkandung ajaran baik yang dibawa Al-Quran menurut keyakinan ummat Islam. Tetapi hal tersebut kembali dipermasalahkan akan sifat Nasionalis seseorang atau sebagian orang bagi mereka yang mengganggu kepentingan mereka. Atau dengan kata lain adalah menyingkirkan seseorang yang tidak memiliki satu visi dan misi dengan kelompok tersebut.

Mereka jeli dalam melihat peluang untuk merenggangkan persatuan tersebut, mereka paham kapan waktunya untuk mulai menyerang dan kapan waktunya untuk bertahan. Suksesor dibalik kelompok tersebut sangat baik dalam mengamati wilayah pertandingan khalayak seorang manager sepak bola.
Ke khawatiran kelompok tersebut menjadi nyata bila masyarakat Indonesia mulai menyadari akan potensi alam yang dimiliki Negara nya ternyata telah dikeruk bangsa asing, mereka khawatir bila masyarakat Indonesia mulai menjadi intelektual, mereka khawatir bila masyarakat Indonesia dapat bersatu, dan bisa jadi mereka khawatir bila ummat muslim di Indonesia bersatu. Dimana ummat muslim di Indonesia merupakan mayoritas terbesar yang ada di dunia, atau bahkan mereka khawatir akan system pemerintahan yang dikomandoi oleh ummat muslim yang taat dan patuh akan syarian islam? Semua kemungkinan dapat terjadi.

Permasalahan sekarang bila kita jeli melihatnya adalah dimana ummat muslim selalu di adu domba dengan sesame ummat muslim. Di mana pimpinan mereka ditunggangi oleh kepentingan salah satu kelompok penghianat dan di mana pimpinan ummat muslim yang masih terjaga kemurnian nya. Dalam kondisi seperti ini, ummat lah yang menjadi korban. Karena pada hakikatnya seorang santri akan taat kepada seorang guru nya dan santri tersebut akan menjaga harkat martabat seorang guru tersebut, saat guru dari santri tersebut disenggol, maka akan terjadi kekacauan. Begitulah terus menerus kejadiannya untuk mengacau keharmonisan masyarakat Indonesia yang telah dibangun selama 70 tahun lebih kemerdekaan.

Penutup

Apa yang kalian harapkan demi dunia yang sementara ini? Apakah dunia ini adalah tujuan kalian? Bukankan hidup dalam kenyamanan dan ke amanan suatu hal yang lebih berarti di atas segalanya dibandingkan dengan kepentingan kelompok yang menimbulkan perpecahan antar bangsa? Mari merangkul persaudaraan kembali dan menyadari bahwa terbentuknya negara Indonesia berasal dari semboyan Bhineka Tunggal Ika, bukan yang lain.

Arenapublik.com adalah media informasi terkini yang memberikan berbagai macam pengetahuan untuk masyarakat Indonesia dan memberikan berbagai macam tutorial secara gratis.

15 comments:

  1. Setuju banget, mas. Seharusnya kita sesama bangsa Indonesia saling rangkul merangkul dalam mewujudkan ketentraman hidup bermasyarakat. Tapi belakangan ini yang terjadi malah berbeda. Terasa sekali ada kerenggangan yang terjadi di sana-sini. Bahkan sesama umat Islam pun membentuk kubu-kubu sendiri dan menghujat satu sama lain. Rasa-rasanya seperti ada oknum-oknum yang ingin merusak bangsa ini dari dalam. :-(

    ReplyDelete
    Replies
    1. musuh sekarang kan emg tidak bisa dibedakan dari fisik mba, bener kata bung karno emang. jaman dlu musuh terlihat jelas dari fisiknya, skg susah.

      Delete
  2. Buen articulo, te deseo un buen fin de semana

    ReplyDelete
  3. edukasi demokrasi di kita masih lemah, hingga kita mudah pecah...

    Nice article....

    ReplyDelete
  4. Yang saya harapkan adalah menjejak bumi dengan bekas jejakan yang baik, agar nanti saat kembali bisa kembali ke tempat yang benar, nggak nyasar hihihi.

    Semoga generasi muda mendatang bakal semakin baik, tidak dirusak oleh kepentinngan golongan :)

    ReplyDelete
  5. dalem banget postingannya, harapanku buat bangsa ini bisa hidup rukun berdampingan tanpa melihat agama yg dianut.. soalnya skrg byk bgt yg jualan agama trus ujungnya jd profokator, huhu

    ReplyDelete
  6. saat muncul kata Indonesia di negeri ini, para pendiri bangsa sudah sadar bawah perbedaanlah yang membuat kita bersatu. semata-mata untuk menggapai mimpi yang sama yaitu bebas dari penjajahan.

    harapannya, semoga tidak ada lagi hal-hal yang mengusik peprsatuan karena perbedaan. kita bersatu karena berbeda, bukan sebaliknya

    ReplyDelete
  7. como siempre, un articulo muy bueno y bien redactado

    ReplyDelete
  8. setuju banget aku,
    semoga kedepannya indonesia semakin rukun, menjunjung tinggi nilai-nilai pancasila dan menghargai perbedaan.. Amiin..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Impian banyak orang ya, semoga generasi ke depan jauh lebih terbuka pikirannya, menganggap perbedaan adalah kekayaan bangsa ini yang tak perlu diperdebatkan

      Delete
  9. Merdekaa!

    Eh..

    #TerbawaSemangat

    I agree.
    Semoga persatuan dan kesatuan Indonesia suatu hari bisa kembali seperti dulu kala :(

    Jas Merah!

    ReplyDelete
  10. andai generasi pada hari ini faham apa yang perlu dilalui negara suatu ketika dahulu, pasti mereka lebih menghargai nikmat hari ini

    ReplyDelete
  11. Orang sekarang mah banyak yang sinting. Dari bikin Empire sampe demo-demo gak jelas. Mendingan kerja keras atau menghasilkan sesuatu. Jadi pikirannya gak melayang ke mana-mana.

    ReplyDelete